Mari Belajar dan Terus Belajar, Membenahi Diri
65 hari 16 jam 10 menit 45 detik
Menuju Awal Puasa Ramadhan 2027

8 Februari 2027

Rabu, 08 April 2026

SUNNAH UNTUK SUAMI ISTRI

 

 

🌿
 SUNNAH UNTUK SUAMI ISTRI 
🌿

1. Berbagi selimut dengan istri (HR. Bukhari 298 & Muslim 444)

2. Makan dan minum bersama (HR. Muslim 300)

3. Mencium dan memeluk istri dengan sering (HR. Ahmad 25766)

4. Mandi bersama istri (HR. Bukhari 316 & Muslim 321)

5. Menyisir rambut suami (HR. Bukhari 295 & Muslim 297)

6. Suami membantu pekerjaan rumah tangga (HR. Bukhari 6039)

7. Tetap romantis meskipun istri sedang haid (HR. Bukhari 7945)

8. Membelai istri (HR. Daruquthni 378)

9. Menemani istri yang sakit (HR. Bukhari 4750)

10. Memberi hadiah kepada istri (HR. Bukhari 594)

11. Mengajak istri jika bepergian ke luar kota (HR. Bukhari 2404)

12. Memanggil dengan kata-kata mesra (HR. An Nasa’i 5307)

13. Suami istri berjalan bersama di malam hari (HR. Muslim 2445)

14. Tidur di pangkuan istri (HR. Bukhari 297)

15. Menyuapi istri (HR. Bukhari 2591)


#SunnahSuamiIstri

IMAN ADAB ILMU


 
Bagaimana Ilmu Agama Mau Berkah, Cara Mendapatkannya Saja Kurang Beradab

Saudaraku, agar ilmu berkah perhatikan adab ketika menuntutnya

Jika kita perhatikan, adab dan akhlak adalah sesuatu yang agak kurang diperhatikan dalam menuntut ilmu agama. Misalnya:
  • Terlambat datang dan tidak minta izin dahulu, tetapi kalau gurunya terlambat langsung di telpon atau SMS: “ustadz kajiannya jadi tidak”?
  • Kalau tidak datang, tidak izin dahulu (untuk kajian yang khusus) dan kajian datang semaunya
  • Duduk selalu paling belakang dan sambil menyandar (tanpa udzur)
  • ketika kajian terlalu banyak memainkan HP dan gadget tanpa ada keperluan
  • Terlalu banyak bercanda atau ribut dalam majelis Ilmu
  • terlalu Fokus ke Ilmu saja tanpa memperhatikan adab, niatnya hanya ingin memiliki kedudukan yang tinggi di masyarakat serta lupa memperhatikan dan mencontoh adab dan akhlak gurunya.
Sebaiknya kita memperhatikan adab dalam menuntut ilmu karena inilah yang dicontohkan oleh para ulama yaitu :
  1. Majelis ilmu ulama tenang dan tidak ada yang berani ribut
  2. Ahmad bin Sinan menjelaskan mengenai majelis Abdurrahman bin Mahdi, guru Imam Ahmad, beliau berkata, “Tidak ada seorangpun berbicara di majelis Abdurrahman bin Mahdi,tidak ada seorangpun yang berdiri, tidak ada seorangpun yang mengasah/meruncingkan pena, tidak ada yang tersenyum.”[1]
  3. Berusaha mempelajari adab dahulu dari Ilmu
  4. Berusaha mencontoh dan meneladani adab, akhlak serta semangat gurunya

UNGKAPAN IMAM AL-GHAZALI

  


Ungkapan Imam al-Ghazali ini adalah peringatan spiritual yang sangat keras tentang kematian hati, jauh sebelum kematian jasad.

Kalimat "Ketika engkau tidak lagi tersentuh oleh Al-Qur'an" menggambarkan hati yang telah kehilangan kepekaan. Al-Qur'an sejatinya bukan sekadar bacaan, tetapi cahaya yang menggerakkan kesadaran, menenangkan kegelisahan, dan menegur jiwa. Ketika ayat-ayat Allah dibaca namun tak lagi mengguncang batin, itu pertanda hati telah tertutup oleh kelalaian dan dosa yang menumpuk.

Lalu Imam al-Ghazali melanjutkan, "tidak gentar oleh dosa". Rasa takut berbuat salah adalah tanda hidupnya iman. Hilangnya rasa gentar menunjukkan tumpulnya nurani: dosa dianggap biasa, maksiat terasa ringan, dan peringatan Ilahi tak lagi menggetarkan. Pada titik ini, seseorang masih bernapas, namun nilai moral dan spiritualnya perlahan mati.

Bagian "dan tidak rindu untuk sujud" adalah puncak diagnosis. Sujud adalah simbol kerendahan, kedekatan, dan kebutuhan mutlak manusia kepada Allah. Ketika kerinduan untuk bersimpuh di hadapan-Nya hilang, maka hubungan ruhani telah terputus. Ibadah menjadi rutinitas kosong, bukan lagi perjumpaan penuh cinta dan harap.

Karena itu Imam al-Ghazali menyimpulkan dengan kalimat yang sangat tajam: "Maka itu bukan hidup, tapi kematian yang belum dikuburkan." Maksudnya, hidup sejati bukan diukur dari detak jantung atau aktivitas duniawi, melainkan dari hidupnya hati. Tubuh boleh berjalan, berbicara, dan bekerja, tetapi jika hati mati dari iman, kesadaran, dan kerinduan kepada Allah, maka hakikatnya ia sedang mati secara ruhani.

Ungkapan ini mengajak kita untuk introspeksi yang jujur: apakah kita benar-benar hidup, atau sekadar menjalani rutinitas tanpa ruh. la juga menjadi panggilan untuk menghidupkan kembali hati-dengan taubat, tadabbur Al-Qur'an, menjaga rasa takut kepada dosa, dan menumbuhkan kembali kerinduan untuk sujud. Karena selama hati masih bisa kembali tersentuh, kematian itu belum final, dan rahmat Allah selalu terbuka. 

Wallahu A'lam