Mari Belajar dan Terus Belajar, Membenahi Diri
65 hari 16 jam 10 menit 45 detik
Menuju Awal Puasa Ramadhan 2027

8 Februari 2027

Tampilkan postingan dengan label NASIHAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NASIHAT. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 September 2026

MENGAPA RASULULLAH ﷺ TIDAK PERNAH MENCELA MAKANAN

                          MENGAPA RASULULLAH ﷺ TIDAK PERNAH MENCELA MAKANAN  Ada satu akhlak Rasulullah ﷺ yang terlihat sederhana, tetapi sebenarnya sangat dalam: beliau tidak pernah mencela makanan.
Jabir bin ‘Abdullah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah berada di rumah salah seorang keluarganya. Ketika makanan dihidangkan, beliau ﷺ memakannya. Jika beliau menyukainya, beliau memakannya. Jika tidak menyukainya, beliau meninggalkannya—tanpa mencela makanan tersebut.

Dalam riwayat Abu Hurairah رضي الله عنه disebutkan:

> “Rasulullah ﷺ tidak pernah mencela makanan. Jika beliau menyukainya, beliau memakannya; jika tidak, beliau meninggalkannya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Bayangkan betapa indahnya akhlak tersebut.

Ketika makanan tidak sesuai selera, beliau ﷺ tidak mengatakan, “Makanan ini tidak enak.”
Tidak mengatakan, “Kenapa memasak seperti ini?”
Tidak mempermalukan orang yang sudah bersusah payah menyiapkannya.

Beliau ﷺ cukup meninggalkannya.

Karena yang dihadapi bukan hanya makanan

Kadang kita lupa bahwa di balik sepiring makanan ada seseorang yang telah berusaha.

Ada seorang ibu yang bangun lebih awal untuk memasak.

Ada seorang istri yang mungkin sudah lelah setelah mengurus rumah.

Ada seorang suami yang bekerja seharian untuk membeli bahan makanan.

Ada seseorang yang mungkin hanya memiliki sedikit kemampuan, tetapi tetap berusaha memberikan yang terbaik.

Ketika makanan itu kemudian dicela, yang terluka terkadang bukan makanannya.

Tetapi hati orang yang membuatnya.

Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kita boleh tidak menyukai sesuatu tanpa harus merendahkan sesuatu tersebut.

Ini pelajaran yang sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini.

Kita hidup di zaman ketika orang begitu mudah mengomentari segala sesuatu.

Makanan seseorang dicela.
Masakan pasangan dibandingkan dengan orang lain.
Pemberian seseorang dianggap kurang.
Usaha seseorang ditertawakan.

Padahal belum tentu kita mengetahui berapa besar perjuangan di baliknya.

Rasulullah ﷺ mengajarkan cara menolak tanpa menyakiti

Perhatikan kelembutan akhlak beliau ﷺ.

Beliau tidak memaksakan diri untuk memakan sesuatu yang tidak disukai.

Tetapi beliau juga tidak menjadikan ketidaksukaan sebagai alasan untuk menyakiti orang lain.

Inilah keseimbangan akhlak Islam.

Tidak harus menyukai semuanya.

Tetapi tetap harus menjaga lisan.

Tidak harus menerima semuanya.

Tetapi jangan merendahkan.

Tidak harus mengatakan “enak” ketika memang tidak suka.

Tetapi kita bisa memilih diam dan meninggalkannya dengan cara yang baik.

Betapa banyak hati yang terluka karena lisan

Kadang seseorang memasak dengan penuh cinta.

Kemudian hanya karena satu kalimat:

“Masakan begini saja tidak enak.”

Senyumnya hilang.

Kadang seorang anak memberikan sesuatu kepada orang tuanya dengan gembira.

Tetapi pemberian itu langsung dibandingkan dengan milik orang lain.

Kegembiraannya berubah menjadi malu.

Kadang pasangan berusaha memberikan yang terbaik.

Tetapi yang didengar justru kekurangannya.

Padahal mungkin yang dia butuhkan bukan pujian besar.

Hanya penghargaan kecil.

Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita bahwa menjaga hati manusia adalah bagian dari akhlak.

Bukan berarti kita tidak boleh mengkritik

Hadits ini juga bukan berarti semua makanan harus kita katakan enak.

Bukan pula berarti kita tidak boleh menyampaikan kritik.

Yang diajarkan adalah jangan mencela makanan hanya karena tidak sesuai selera.

Jika ada masalah kesehatan, kebersihan, atau sesuatu yang memang perlu disampaikan, tentu boleh dijelaskan dengan cara yang baik.

Namun berbeda antara:

“Saya kurang cocok dengan rasanya.”

dengan:

“Masakan ini buruk sekali.”

Yang pertama menyampaikan selera.

Yang kedua merendahkan.

Dan Rasulullah ﷺ memilih akhlak yang paling mulia.

Ada pelajaran lain yang sangat dalam

Kisah ini juga mengajarkan kita tentang syukur.

Tidak semua orang yang hari ini memiliki makanan di meja menyadari bahwa di luar sana ada orang yang bahkan tidak tahu kapan mereka akan makan lagi.

Maka ketika makanan tersedia, jangan mudah mencela.

Ingatlah orang yang menanamnya.

Orang yang memanennya.

Orang yang menjualnya.

Orang yang membelinya.

Orang yang memasaknya.

Dan terutama, ingatlah Allah ﷻ yang memberikan rezeki itu.

Allah ﷻ berfirman:

“Makanlah dari rezeki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu.”
(QS. Al-Baqarah: 172)

Maka mulai sekarang, sebelum mengomentari makanan, mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri:

“Apakah makanan ini benar-benar tidak enak, atau sebenarnya lidahku saja yang terlalu terbiasa menuntut?”

Sebab terkadang masalah bukan pada makanan.

Tetapi pada hati yang kurang bersyukur.

Dan mungkin inilah salah satu akhlak Rasulullah ﷺ yang paling sederhana untuk kita praktikkan hari ini:

Jika suka, makanlah dengan syukur.
Jika tidak suka, tinggalkan dengan baik.
Tetapi jangan jadikan lisan kita sebagai sebab hati orang lain terluka.

Karena seseorang bisa saja melupakan rasa makanan yang kita sajikan.

Tetapi dia mungkin tidak akan pernah melupakan kata-kata yang kita ucapkan ketika dia sudah berusaha memberikannya kepada kita.
 #BelajarMuhasabahDiri #SelfReminder #NasihatDiri #KisahSangRasul #KisahRasul  

Selasa, 15 September 2026

KISAH CINTA RASULULLAH ﷺ YANG MEMBUAT HATI SULIT MENAHAN AIR MATA

 

KISAH CINTA RASULULLAH ﷺ YANG MEMBUAT HATI SULIT MENAHAN AIR MATA

Di antara seluruh kisah kehidupan Rasulullah ﷺ, ada kisah-kisah cinta yang tidak dibangun dengan kata-kata manis semata.

Cinta Rasulullah ﷺ terlihat dalam perhatian.

Dalam kesetiaan.

Dalam cara beliau mengingat seseorang yang telah tiada.

Dalam cara beliau memperlakukan keluarganya.

Dan dalam air mata yang jatuh karena cinta kepada orang-orang yang beliau sayangi.

Salah satu kisah yang paling menyentuh adalah kisah cinta Rasulullah ﷺ kepada Khadijah radhiyallahu 'anha.

Bukan hanya karena Khadijah adalah istri pertama beliau.

Tetapi karena Khadijah adalah seseorang yang berdiri di samping Rasulullah ﷺ ketika hampir semua orang belum percaya kepadanya.

KETIKA DUNIA BELUM MEMAHAMI BELIAU

Sebelum kenabian, Muhammad ﷺ telah dikenal oleh masyarakat Makkah sebagai orang yang jujur dan dapat dipercaya.

Khadijah radhiyallahu 'anha kemudian menikah dengan beliau.

Kehidupan rumah tangga mereka berlangsung dalam kasih sayang.

Namun kemudian datanglah hari yang mengubah seluruh kehidupan Rasulullah ﷺ.

Di Gua Hira, ketika beliau sedang beribadah, wahyu pertama turun.

Malaikat Jibril عليه السلام datang membawa wahyu.

Peristiwa itu begitu berat bagi Rasulullah ﷺ.

Beliau pulang dalam keadaan gemetar dan meminta agar diselimuti.

"Selimuti aku! Selimuti aku!"

Khadijah tidak meninggalkan beliau.

Ia tidak berkata,

"Mengapa kamu pergi ke gua seorang diri?"

Ia tidak menuduh beliau mengalami sesuatu yang buruk.

Ia justru menenangkan suaminya.

Khadijah berkata bahwa Allah ﷻ tidak akan menghinakannya, karena beliau menjaga hubungan kekerabatan, membantu orang yang lemah, menolong orang miskin, memuliakan tamu, dan membantu orang yang tertimpa musibah.

Kemudian Khadijah membawa Rasulullah ﷺ menemui Waraqah bin Naufal.

Saat itu, Khadijah menjadi salah satu manusia pertama yang membenarkan Rasulullah ﷺ.

Inilah salah satu bentuk cinta yang paling dalam:

percaya kepada seseorang ketika seluruh dunia belum memahami apa yang sedang terjadi padanya.

KETIKA RISALAH ITU SEMAKIN BERAT

Setelah Rasulullah ﷺ mulai berdakwah, ujian semakin berat.

Beliau dicaci.

Dituduh sebagai penyihir.

Dituduh sebagai penyair.

Dituduh sebagai orang gila.

Kaum Quraisy menolak dakwah beliau.

Orang-orang yang dahulu mengenal beliau sebagai Al-Amin mulai memusuhi beliau karena ajaran tauhid yang dibawanya.

Tetapi di rumah, ada seseorang yang tetap menjadi tempat Rasulullah ﷺ menemukan ketenangan.

Khadijah.

Ia bukan hanya istri.

Ia adalah orang yang membenarkan beliau ketika orang lain mendustakannya.

Ia mendukung beliau ketika orang lain meninggalkannya.

Ia memberikan hartanya ketika dakwah membutuhkan pengorbanan.

Ia menemani beliau ketika perjuangan terasa begitu berat.

Karena itu, cinta Rasulullah ﷺ kepada Khadijah bukan sekadar cinta karena hubungan pernikahan.

Ada sejarah panjang pengorbanan di antara mereka.

TAHUN-TAHUN YANG SANGAT BERAT

Kemudian datang masa pemboikotan terhadap Bani Hasyim dan orang-orang yang mendukung Rasulullah ﷺ.

Mereka mengalami kesulitan yang berat.

Makanan sulit diperoleh.

Kehidupan menjadi sangat sempit.

Khadijah yang dahulu memiliki kedudukan dan harta tidak memilih meninggalkan Rasulullah ﷺ.

Ia tetap bersama beliau.

Ia rela melewati masa sulit itu.

Harta yang dimilikinya digunakan untuk membantu perjuangan dan memenuhi kebutuhan selama masa penuh tekanan tersebut.

Begitulah cinta yang sesungguhnya.

Bukan hanya hadir ketika kehidupan nyaman.

Tetapi tetap berada di sisi seseorang ketika keadaan menjadi sangat sulit.

KEMUDIAN DATANGLAH HARI YANG PALING MENYEDIHKAN

Setelah bertahun-tahun bersama Rasulullah ﷺ, Khadijah radhiyallahu 'anha wafat.

Kepergiannya menjadi salah satu kehilangan terbesar dalam kehidupan Rasulullah ﷺ.

Tidak lama setelah itu, Abu Thalib juga wafat.

Tahun tersebut kemudian dikenal sebagai 'Am al-Huzn, tahun kesedihan.

Rasulullah ﷺ kehilangan dua orang yang selama ini memberikan dukungan besar kepadanya.

Tetapi cinta kepada Khadijah tidak berakhir ketika Khadijah meninggal.

Justru dari sana kita melihat betapa dalamnya cinta tersebut.

RASULULLAH ﷺ TETAP MENGINGAT KHADIJAH

Bertahun-tahun setelah Khadijah wafat, Rasulullah ﷺ masih sering mengingatnya.

Aisyah radhiyallahu 'anha pernah merasa cemburu kepada Khadijah.

Mengapa?

Karena Rasulullah ﷺ begitu sering menyebut namanya.

Dalam riwayat Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, Aisyah radhiyallahu 'anha menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ sering memuji Khadijah.

Beliau bahkan menyebut bahwa Allah ﷻ telah memberikan kabar gembira kepada Khadijah berupa rumah di surga, yang di dalamnya tidak ada kegaduhan dan tidak ada kelelahan.

Bayangkan...

Khadijah telah meninggal.

Tetapi namanya masih hidup dalam ingatan Rasulullah ﷺ.

Inilah salah satu bentuk cinta yang paling menyentuh.

Kematian tidak menghapus orang yang benar-benar memiliki tempat di hati.

RASULULLAH ﷺ TIDAK MELUPAKAN SAHABAT-SAHABAT KHADIJAH

Cinta Rasulullah ﷺ kepada Khadijah bahkan terlihat dari bagaimana beliau memperlakukan orang-orang yang pernah dekat dengannya.

Aisyah radhiyallahu 'anha berkata bahwa apabila Rasulullah ﷺ menyembelih seekor kambing, beliau sering mengirimkan sebagian dagingnya kepada teman-teman Khadijah.

Aisyah sampai mengatakan bahwa seakan-akan tidak ada wanita lain selain Khadijah.

Rasulullah ﷺ kemudian menjelaskan keutamaan Khadijah dan bagaimana Khadijah mendukung beliau ketika orang lain tidak membenarkan, mempercayai beliau, dan membantu beliau dengan hartanya.

Betapa indahnya cinta seperti itu.

Rasulullah ﷺ tidak hanya mengingat Khadijah.

Beliau juga mengingat orang-orang yang pernah dicintai Khadijah.

CINTA YANG TIDAK DIHAPUS OLEH WAKTU

Ada orang yang mencintai seseorang selama orang itu berada di dekatnya.

Ketika sudah jauh, cintanya perlahan hilang.

Tetapi Rasulullah ﷺ menunjukkan bentuk cinta yang berbeda.

Khadijah telah meninggal.

Tahun-tahun telah berlalu.

Rasulullah ﷺ kemudian menikah dengan Aisyah radhiyallahu 'anha dan memiliki kehidupan keluarga yang baru.

Namun itu tidak berarti beliau harus menghapus Khadijah dari sejarah hidupnya.

Beliau tetap menghormati kenangan tersebut.

Dan Aisyah radhiyallahu 'anha akhirnya memahami betapa istimewanya posisi Khadijah dalam kehidupan Rasulullah ﷺ.

CINTA RASULULLAH ﷺ KEPADA AISYAH RA.

Namun jangan kita kira bahwa setelah Khadijah wafat, Rasulullah ﷺ tidak lagi memiliki kasih sayang yang besar kepada istrinya yang lain.

Justru kehidupan beliau bersama Aisyah radhiyallahu 'anha memperlihatkan sisi cinta yang sangat manusiawi dan indah.

Rasulullah ﷺ pernah ditanya:

"Siapakah manusia yang paling engkau cintai?"

Beliau menjawab:

"Aisyah."

Kemudian ditanya:

"Dari kalangan laki-laki?"

Beliau menjawab:

"Ayahnya."

Yakni Abu Bakar radhiyallahu 'anhu.

(HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikan.

Rasulullah ﷺ tidak malu mengakui bahwa beliau mencintai istrinya.

Cinta dalam rumah tangga bukan sesuatu yang harus disembunyikan selama berada dalam batas yang halal.

RASULULLAH ﷺ JUGA MENUNJUKKAN CINTA DALAM HAL-HAL KECIL

Cinta Rasulullah ﷺ tidak selalu berupa kata-kata besar.

Kadang cinta terlihat dari hal yang sangat sederhana.

Aisyah radhiyallahu 'anha pernah menceritakan bahwa ia minum dari sebuah wadah, lalu Rasulullah ﷺ mengambil wadah tersebut dan meletakkan mulut beliau pada tempat yang sama dengan tempat Aisyah minum.

Dalam riwayat lain, Aisyah menceritakan bahwa ketika ia sedang haid, Rasulullah ﷺ tetap minum dari tempat yang sama.

Beliau tidak menjauhi istrinya hanya karena keadaan biologis tersebut.

Bahkan ketika Aisyah sedang haid, Rasulullah ﷺ tetap menunjukkan kasih sayang dan kedekatan sebagai suami.

Inilah pelajaran besar:

Cinta tidak selalu membutuhkan sesuatu yang mahal.

Kadang cinta adalah perhatian kecil yang membuat seseorang merasa dihargai.

RASULULLAH ﷺ TIDAK HANYA MENGAJARKAN CINTA, BELIAU MEMPERAGAKANNYA

Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

«"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku."»

(HR. Tirmidzi)

Ini bukan sekadar teori.

Rasulullah ﷺ hidup bersama keluarganya.

Beliau bercanda.

Beliau menunjukkan kasih sayang.

Beliau membantu keluarganya.

Aisyah radhiyallahu 'anha pernah ditanya tentang apa yang dilakukan Rasulullah ﷺ di rumah.

Ia menjelaskan bahwa beliau membantu pekerjaan keluarganya.

Kemudian ketika waktu shalat tiba, beliau keluar untuk melaksanakan shalat.

(HR. Bukhari)

Betapa indahnya.

Seorang Rasul.

Seorang pemimpin umat.

Seorang manusia yang memikul amanah dakwah yang sangat besar.

Tetapi ketika berada di rumah, beliau tetap membantu keluarganya.

CINTA KEPADA ANAK-ANAK

Cinta Rasulullah ﷺ juga terlihat dari kasih sayang beliau kepada anak-anak.

Beliau mencium Hasan bin Ali radhiyallahu 'anhuma.

Seorang laki-laki bernama Al-Aqra' bin Habis melihatnya dan berkata bahwa ia memiliki sepuluh anak tetapi belum pernah mencium satu pun dari mereka.

Rasulullah ﷺ kemudian bersabda:

"Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi."

(HR. Bukhari dan Muslim)

Ini bukan sekadar tentang mencium anak.

Ini tentang kelembutan.

Tentang kasih sayang.

Tentang bagaimana seorang ayah tidak perlu merasa bahwa menunjukkan cinta akan mengurangi wibawanya.

Justru kasih sayang adalah bagian dari akhlak Rasulullah ﷺ.

DAN KEMUDIAN DATANG SAAT PERPISAHAN

Bagian paling menggetarkan dari kisah cinta Rasulullah ﷺ bukan hanya ketika beliau mencintai.

Tetapi ketika beliau harus kehilangan.

Pada akhir kehidupan Rasulullah ﷺ, tubuh beliau semakin lemah.

Beliau mengalami sakit yang berat.

Orang-orang yang beliau cintai berada di sekelilingnya.

Aisyah radhiyallahu 'anha menemani beliau.

Dan akhirnya Rasulullah ﷺ wafat di rumah Aisyah radhiyallahu 'anha, di pangkuan dan dekat dengan keluarganya.

Aisyah kemudian menjadi salah satu orang yang paling banyak meriwayatkan ilmu dari Rasulullah ﷺ.

Cinta mereka tidak berhenti pada kehidupan rumah tangga.

Cinta itu menjadi bagian dari sejarah umat.

APA YANG MEMBUAT KISAH CINTA INI BEGITU MENYENTUH?

Karena cinta Rasulullah ﷺ bukan cinta yang hanya berbicara:

"Aku mencintaimu."

Cinta beliau terlihat dalam tindakan.

Ketika Khadijah mendukung beliau, beliau tidak melupakannya.

Ketika Khadijah telah wafat, beliau tetap menghormatinya.

Ketika Aisyah menjadi istrinya, beliau menunjukkan kasih sayang kepadanya.

Ketika anak-anak berada di dekatnya, beliau mencium dan menyayangi mereka.

Ketika berada di rumah, beliau membantu keluarganya.

Dan ketika menghadapi manusia, beliau menunjukkan akhlak yang lembut.

CINTA BUKAN BERARTI TIDAK PERNAH TERLUKA

Kisah rumah tangga Rasulullah ﷺ juga menunjukkan bahwa keluarga tidak selalu bebas dari masalah.

Pernah terjadi kecemburuan di antara istri-istri beliau.

Pernah terjadi kesalahpahaman.

Pernah ada perasaan yang terluka.

Tetapi Rasulullah ﷺ tidak menjadikan setiap masalah sebagai alasan untuk menghancurkan kasih sayang.

Beliau tetap menjadi manusia yang lembut dan adil.

Ini pelajaran penting bagi pasangan yang hidup pada zaman sekarang.

Jangan berharap pernikahan tanpa masalah.

Yang perlu dicari bukan rumah tangga tanpa konflik.

Tetapi rumah tangga yang tahu bagaimana kembali kepada Allah ﷻ setelah konflik terjadi.

CINTA YANG PALING INDAH ADALAH CINTA YANG MEMBAWA KEPADA ALLAH ﷻ

Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa pasangan bukanlah tujuan terakhir.

Pasangan adalah amanah.

Anak adalah amanah.

Keluarga adalah amanah.

Cinta harus membawa manusia semakin dekat kepada Allah ﷻ, bukan membuatnya melupakan Allah ﷻ.

Karena suatu hari nanti, semua yang kita cintai di dunia akan meninggalkan kita atau kita yang meninggalkan mereka.

Harta akan ditinggalkan.

Rumah akan ditinggalkan.

Pekerjaan akan ditinggalkan.

Bahkan orang-orang yang paling kita cintai pun akan berpisah dengan kita ketika ajal tiba.

Yang tersisa adalah amal.

Maka cintailah pasangan dengan cara yang diridai Allah ﷻ.

Hormati dia.

Jaga kehormatannya.

Jangan mudah menghinanya.

Jangan membuka aibnya.

Jangan mengkhianatinya.

Bantu ketika ia lemah.

Maafkan ketika ia melakukan kesalahan yang dapat dimaafkan.

Dan ketika hubungan sedang diuji, jangan lupa berdoa.

JIKA SUATU HARI PASANGANMU MEMBUATMU MENANGIS

Ingatlah kisah Rasulullah ﷺ.

Beliau juga pernah mengalami kesedihan.

Beliau juga pernah kehilangan orang yang dicintainya.

Beliau juga pernah merasakan beratnya perpisahan.

Tetapi kesedihan tidak membuat beliau meninggalkan Allah ﷻ.

Justru semakin berat ujian, semakin dalam beliau kembali kepada Rabb-nya.

Maka jika hari ini kamu sedang mencintai seseorang, jangan hanya meminta:

"Ya Allah ﷻ, jangan pisahkan aku dengannya."

Mintalah juga:

"Ya Allah ﷻ, jadikan cinta kami sebagai jalan untuk semakin dekat kepada-Mu."

Karena cinta yang paling indah bukan sekadar cinta yang membuat kita bahagia di dunia.

Tetapi cinta yang membantu kita saling menggenggam tangan menuju surga.

Dan mungkin itulah alasan kisah cinta Rasulullah ﷺ begitu menggetarkan hati.

Karena kita tidak hanya belajar bagaimana mencintai seseorang.

Kita belajar bagaimana mencintai dengan kesetiaan, pengorbanan, kelembutan, kesabaran, dan ketakwaan.

Khadijah telah pergi.

Tetapi cintanya tetap hidup dalam ingatan Rasulullah ﷺ.

Orang-orang yang dicintai Rasulullah ﷺ juga satu demi satu meninggalkan dunia.

Namun kebaikan mereka tetap hidup dalam sejarah.

Dan kelak, kita pun akan mengalami hal yang sama.

Suatu hari, orang yang kita cintai mungkin akan pergi.

Atau mungkin justru kita yang lebih dahulu pergi.

Karena itu, sebelum waktu tersebut datang—

cintailah dengan baik.

Maafkan lebih banyak.

Jangan pelit mengucapkan kasih sayang.

Jangan menunggu kehilangan untuk menyadari betapa berharganya seseorang.

Dan yang paling penting:

Jangan pernah mencintai manusia dengan cara yang membuat kita melupakan Allah ﷻ.

Sebab manusia adalah titipan.

Sedangkan Allah ﷻ adalah pemilik segala sesuatu.

Dan cinta yang benar bukan hanya membuat kita ingin bersama seseorang di dunia.

Cinta yang benar membuat kita berharap dapat bertemu kembali dengannya di tempat terbaik yang Allah ﷻ siapkan: di surga

 #BelajarMuhasabahDiri #SelfReminder #NasihatDiri #KisahSangRasul #KisahRasul