MENGAPA RASULULLAH ﷺ TIDAK PERNAH MENCELA MAKANAN Ada satu akhlak Rasulullah ﷺ yang terlihat sederhana, tetapi sebenarnya sangat dalam: beliau tidak pernah mencela makanan.Jabir bin ‘Abdullah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah berada di rumah salah seorang keluarganya. Ketika makanan dihidangkan, beliau ﷺ memakannya. Jika beliau menyukainya, beliau memakannya. Jika tidak menyukainya, beliau meninggalkannya—tanpa mencela makanan tersebut.
Dalam riwayat Abu Hurairah رضي الله عنه disebutkan:
> “Rasulullah ﷺ tidak pernah mencela makanan. Jika beliau menyukainya, beliau memakannya; jika tidak, beliau meninggalkannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Bayangkan betapa indahnya akhlak tersebut.
Ketika makanan tidak sesuai selera, beliau ﷺ tidak mengatakan, “Makanan ini tidak enak.”
Tidak mengatakan, “Kenapa memasak seperti ini?”
Tidak mempermalukan orang yang sudah bersusah payah menyiapkannya.
Beliau ﷺ cukup meninggalkannya.
Karena yang dihadapi bukan hanya makanan
Kadang kita lupa bahwa di balik sepiring makanan ada seseorang yang telah berusaha.
Ada seorang ibu yang bangun lebih awal untuk memasak.
Ada seorang istri yang mungkin sudah lelah setelah mengurus rumah.
Ada seorang suami yang bekerja seharian untuk membeli bahan makanan.
Ada seseorang yang mungkin hanya memiliki sedikit kemampuan, tetapi tetap berusaha memberikan yang terbaik.
Ketika makanan itu kemudian dicela, yang terluka terkadang bukan makanannya.
Tetapi hati orang yang membuatnya.
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kita boleh tidak menyukai sesuatu tanpa harus merendahkan sesuatu tersebut.
Ini pelajaran yang sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini.
Kita hidup di zaman ketika orang begitu mudah mengomentari segala sesuatu.
Makanan seseorang dicela.
Masakan pasangan dibandingkan dengan orang lain.
Pemberian seseorang dianggap kurang.
Usaha seseorang ditertawakan.
Padahal belum tentu kita mengetahui berapa besar perjuangan di baliknya.
Rasulullah ﷺ mengajarkan cara menolak tanpa menyakiti
Perhatikan kelembutan akhlak beliau ﷺ.
Beliau tidak memaksakan diri untuk memakan sesuatu yang tidak disukai.
Tetapi beliau juga tidak menjadikan ketidaksukaan sebagai alasan untuk menyakiti orang lain.
Inilah keseimbangan akhlak Islam.
Tidak harus menyukai semuanya.
Tetapi tetap harus menjaga lisan.
Tidak harus menerima semuanya.
Tetapi jangan merendahkan.
Tidak harus mengatakan “enak” ketika memang tidak suka.
Tetapi kita bisa memilih diam dan meninggalkannya dengan cara yang baik.
Betapa banyak hati yang terluka karena lisan
Kadang seseorang memasak dengan penuh cinta.
Kemudian hanya karena satu kalimat:
“Masakan begini saja tidak enak.”
Senyumnya hilang.
Kadang seorang anak memberikan sesuatu kepada orang tuanya dengan gembira.
Tetapi pemberian itu langsung dibandingkan dengan milik orang lain.
Kegembiraannya berubah menjadi malu.
Kadang pasangan berusaha memberikan yang terbaik.
Tetapi yang didengar justru kekurangannya.
Padahal mungkin yang dia butuhkan bukan pujian besar.
Hanya penghargaan kecil.
Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita bahwa menjaga hati manusia adalah bagian dari akhlak.
Bukan berarti kita tidak boleh mengkritik
Hadits ini juga bukan berarti semua makanan harus kita katakan enak.
Bukan pula berarti kita tidak boleh menyampaikan kritik.
Yang diajarkan adalah jangan mencela makanan hanya karena tidak sesuai selera.
Jika ada masalah kesehatan, kebersihan, atau sesuatu yang memang perlu disampaikan, tentu boleh dijelaskan dengan cara yang baik.
Namun berbeda antara:
“Saya kurang cocok dengan rasanya.”
dengan:
“Masakan ini buruk sekali.”
Yang pertama menyampaikan selera.
Yang kedua merendahkan.
Dan Rasulullah ﷺ memilih akhlak yang paling mulia.
Ada pelajaran lain yang sangat dalam
Kisah ini juga mengajarkan kita tentang syukur.
Tidak semua orang yang hari ini memiliki makanan di meja menyadari bahwa di luar sana ada orang yang bahkan tidak tahu kapan mereka akan makan lagi.
Maka ketika makanan tersedia, jangan mudah mencela.
Ingatlah orang yang menanamnya.
Orang yang memanennya.
Orang yang menjualnya.
Orang yang membelinya.
Orang yang memasaknya.
Dan terutama, ingatlah Allah ﷻ yang memberikan rezeki itu.
Allah ﷻ berfirman:
“Makanlah dari rezeki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu.”
(QS. Al-Baqarah: 172)
Maka mulai sekarang, sebelum mengomentari makanan, mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri:
“Apakah makanan ini benar-benar tidak enak, atau sebenarnya lidahku saja yang terlalu terbiasa menuntut?”
Sebab terkadang masalah bukan pada makanan.
Tetapi pada hati yang kurang bersyukur.
Dan mungkin inilah salah satu akhlak Rasulullah ﷺ yang paling sederhana untuk kita praktikkan hari ini:
Jika suka, makanlah dengan syukur.
Jika tidak suka, tinggalkan dengan baik.
Tetapi jangan jadikan lisan kita sebagai sebab hati orang lain terluka.
Karena seseorang bisa saja melupakan rasa makanan yang kita sajikan.
Tetapi dia mungkin tidak akan pernah melupakan kata-kata yang kita ucapkan ketika dia sudah berusaha memberikannya kepada kita. #BelajarMuhasabahDiri #SelfReminder #NasihatDiri #KisahSangRasul #KisahRasul
Dalam riwayat Abu Hurairah رضي الله عنه disebutkan:
> “Rasulullah ﷺ tidak pernah mencela makanan. Jika beliau menyukainya, beliau memakannya; jika tidak, beliau meninggalkannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Bayangkan betapa indahnya akhlak tersebut.
Ketika makanan tidak sesuai selera, beliau ﷺ tidak mengatakan, “Makanan ini tidak enak.”
Tidak mengatakan, “Kenapa memasak seperti ini?”
Tidak mempermalukan orang yang sudah bersusah payah menyiapkannya.
Beliau ﷺ cukup meninggalkannya.
Karena yang dihadapi bukan hanya makanan
Kadang kita lupa bahwa di balik sepiring makanan ada seseorang yang telah berusaha.
Ada seorang ibu yang bangun lebih awal untuk memasak.
Ada seorang istri yang mungkin sudah lelah setelah mengurus rumah.
Ada seorang suami yang bekerja seharian untuk membeli bahan makanan.
Ada seseorang yang mungkin hanya memiliki sedikit kemampuan, tetapi tetap berusaha memberikan yang terbaik.
Ketika makanan itu kemudian dicela, yang terluka terkadang bukan makanannya.
Tetapi hati orang yang membuatnya.
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kita boleh tidak menyukai sesuatu tanpa harus merendahkan sesuatu tersebut.
Ini pelajaran yang sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini.
Kita hidup di zaman ketika orang begitu mudah mengomentari segala sesuatu.
Makanan seseorang dicela.
Masakan pasangan dibandingkan dengan orang lain.
Pemberian seseorang dianggap kurang.
Usaha seseorang ditertawakan.
Padahal belum tentu kita mengetahui berapa besar perjuangan di baliknya.
Rasulullah ﷺ mengajarkan cara menolak tanpa menyakiti
Perhatikan kelembutan akhlak beliau ﷺ.
Beliau tidak memaksakan diri untuk memakan sesuatu yang tidak disukai.
Tetapi beliau juga tidak menjadikan ketidaksukaan sebagai alasan untuk menyakiti orang lain.
Inilah keseimbangan akhlak Islam.
Tidak harus menyukai semuanya.
Tetapi tetap harus menjaga lisan.
Tidak harus menerima semuanya.
Tetapi jangan merendahkan.
Tidak harus mengatakan “enak” ketika memang tidak suka.
Tetapi kita bisa memilih diam dan meninggalkannya dengan cara yang baik.
Betapa banyak hati yang terluka karena lisan
Kadang seseorang memasak dengan penuh cinta.
Kemudian hanya karena satu kalimat:
“Masakan begini saja tidak enak.”
Senyumnya hilang.
Kadang seorang anak memberikan sesuatu kepada orang tuanya dengan gembira.
Tetapi pemberian itu langsung dibandingkan dengan milik orang lain.
Kegembiraannya berubah menjadi malu.
Kadang pasangan berusaha memberikan yang terbaik.
Tetapi yang didengar justru kekurangannya.
Padahal mungkin yang dia butuhkan bukan pujian besar.
Hanya penghargaan kecil.
Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita bahwa menjaga hati manusia adalah bagian dari akhlak.
Bukan berarti kita tidak boleh mengkritik
Hadits ini juga bukan berarti semua makanan harus kita katakan enak.
Bukan pula berarti kita tidak boleh menyampaikan kritik.
Yang diajarkan adalah jangan mencela makanan hanya karena tidak sesuai selera.
Jika ada masalah kesehatan, kebersihan, atau sesuatu yang memang perlu disampaikan, tentu boleh dijelaskan dengan cara yang baik.
Namun berbeda antara:
“Saya kurang cocok dengan rasanya.”
dengan:
“Masakan ini buruk sekali.”
Yang pertama menyampaikan selera.
Yang kedua merendahkan.
Dan Rasulullah ﷺ memilih akhlak yang paling mulia.
Ada pelajaran lain yang sangat dalam
Kisah ini juga mengajarkan kita tentang syukur.
Tidak semua orang yang hari ini memiliki makanan di meja menyadari bahwa di luar sana ada orang yang bahkan tidak tahu kapan mereka akan makan lagi.
Maka ketika makanan tersedia, jangan mudah mencela.
Ingatlah orang yang menanamnya.
Orang yang memanennya.
Orang yang menjualnya.
Orang yang membelinya.
Orang yang memasaknya.
Dan terutama, ingatlah Allah ﷻ yang memberikan rezeki itu.
Allah ﷻ berfirman:
“Makanlah dari rezeki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu.”
(QS. Al-Baqarah: 172)
Maka mulai sekarang, sebelum mengomentari makanan, mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri:
“Apakah makanan ini benar-benar tidak enak, atau sebenarnya lidahku saja yang terlalu terbiasa menuntut?”
Sebab terkadang masalah bukan pada makanan.
Tetapi pada hati yang kurang bersyukur.
Dan mungkin inilah salah satu akhlak Rasulullah ﷺ yang paling sederhana untuk kita praktikkan hari ini:
Jika suka, makanlah dengan syukur.
Jika tidak suka, tinggalkan dengan baik.
Tetapi jangan jadikan lisan kita sebagai sebab hati orang lain terluka.
Karena seseorang bisa saja melupakan rasa makanan yang kita sajikan.
Tetapi dia mungkin tidak akan pernah melupakan kata-kata yang kita ucapkan ketika dia sudah berusaha memberikannya kepada kita. #BelajarMuhasabahDiri #SelfReminder #NasihatDiri #KisahSangRasul #KisahRasul