Mari Belajar dan Terus Belajar, Membenahi Diri
65 hari 16 jam 10 menit 45 detik
Menuju Awal Puasa Ramadhan 2027

8 Februari 2027

Jumat, 05 Juni 2026

KISAH LENGKAP SEJARAH PERINTAH MENGHADAP KIBLAT

KISAH LENGKAP SEJARAH PERINTAH MENGHADAP KIBLAT 
 

kisah lengkap sejarah perintah menghadap kiblat, mulai dari masa di Yerusalem hingga perpindahannya ke Kota Makkah.

1. Masa Awal: Menghadap Baitul Maqdis
Setelah memeluk Islam, Nabi Muhammad SAW dan para sahabat mendirikan sholat dengan menghadap ke Baitul Maqdis (Masjidil Aqsa) di Yerusalem. Hal ini berlangsung selama masa dakwah di Makkah hingga setelah hijrah ke Madinah.

Total waktu umat Islam menghadap ke Baitul Maqdis adalah sekitar 16 hingga 17 bulan.Baitul Maqdis dipilih pada masa awal sebagai bentuk penghormatan terhadap tempat suci para nabi terdahulu sekaligus pembeda dari kaum musyrik Makkah yang saat itu menyembah berhala di sekitar Ka'bah.

2. Kerinduan Nabi Muhammad SAW.
Selama tinggal di Madinah, Nabi Muhammad SAW sering memandang ke langit dengan penuh harapan. Beliau sangat merindukan agar kiblat sholat dipindahkan ke Ka'bah di Makkah.

Bagi Nabi Muhammad SAW, Ka'bah memiliki kedekatan emosional dan spiritual yang sangat dalam:
• Ka'bah adalah rumah ibadah pertama yang dibangun di bumi untuk menyembah Allah SWT.
• Ka'bah merupakan warisan suci dari kakek moyang beliau, Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.
• Ka'bah menjadi simbol murninya ajaran tauhid sebelum dikotori oleh berhala-berhala kaum Quraisy.
 
3. Peristiwa di Masjid Qiblatain
Pada pertengahan bulan Sya'ban, tahun ke-2 Hijriah, jawaban atas doa Nabi Muhammad SAW akhirnya turun. Saat itu, Nabi SAW sedang memimpin sholat berjamaah di masjid milik Bani Salamah.
Sebagian riwayat menyebutkan itu adalah sholat Dzuhur, dan riwayat lain menyebutkan sholat Ashar.

Ketika Nabi SAW baru menyelesaikan dua rakaat, turunlah wahyu dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril, yaitu Surat Al-Baqarah ayat 144:
"Sungguh Kami melihat wajahmu kerap menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram..."

Seketika itu juga, di tengah-tengah sholat, Nabi Muhammad SAW langsung memutar arah badannya 180 derajat menuju arah Ka'bah (selatan). Para sahabat yang menjadi makmum langsung mengikuti gerakan Nabi SAW tanpa membatalkan sholat mereka. Masjid tersebut kemudian dikenal hingga hari ini dengan nama Masjid Qiblatain (Masjid Dua Kiblat).

4. Ujian Keimanan bagi Manusia
Peristiwa perpindahan kiblat ini menjadi momen pembeda antara orang-orang yang beriman tulus dengan orang-orang yang ragu. Allah SWT menegaskan bahwa perubahan ini adalah ujian untuk melihat siapa yang benar-benar patuh kepada Rasulullah SAW.
• Kaum Muslimin: Mereka langsung patuh tanpa ragu, menunjukkan ketaatan mutlak kepada Allah dan Rasul-Nya.
• Kaum Yahudi & Kaum Munafik: Mereka mengejek dan mempertanyakan mengapa umat Islam mengubah kiblat mereka. Mereka menyebarkan keraguan dengan berkata bahwa jika kiblat yang lama benar, maka sholat yang baru salah, dan sebaliknya.
 
Allah SWT membantah ejekan tersebut melalui Al-Qur'an dengan menegaskan bahwa barat dan timur adalah milik Allah. Menghadap ke mana pun adalah urusan ketaatan, karena Allah ada di mana-mana dan tidak terikat oleh ruang.

💫 Dalil Al-Qur'an (Sumber Utama)
Perintah resmi perpindahan kiblat dari Baitul Maqdis (Yerusalem) ke Masjidil Haram (Makkah) diabadikan langsung oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an, Surat Al-Baqarah ayat 144

#SejarahIslam #NabiMuhammad #Kabah #BelajarMuhasabahDiri #SelfReminder

TASAWUF DAN TAREKAT BUKAN PERJALANAN KAKI, TETAPI PERJALANAN HATI

TASAWUF DAN TAREKAT BUKAN PERJALANAN KAKI, TETAPI PERJALANAN HATI



Kita semua sibuk berjalan ke sana sini dengan jasad, tetapi jarang berjalan masuk ke dalam diri sendiri.

Sedangkan Allah memandang hati, bukan rupa dan jasad semata-mata.

Menurut para ulama tasawuf,
Hati manusia ada beberapa lapisan. Lapisan yang paling luar dekat dengan dunia dan nafsu, manakala lapisan yang paling dalam ialah tempat tersimpannya rahsia ketuhanan yang disebut sebagai sirr, ana, atau ruh qudsi mengikut istilah para masyaikh.

Sebab itu perjalanan tasawuf bukan sekadar menambah ilmu di kepala, tetapi membersihkan hati sedikit demi sedikit.

Daripada:
1. Nafs Ammarah (suka mengikut hawa nafsu),
2. Kepada Lawwamah (mula menyesal bila buat dosa),
3. Kepada Mulhamah (mula mendapat ilham kebaikan),
4. Kepada Mutmainnah (jiwa yang tenang),
5. Ssehingga mencapai maqam yang lebih tinggi.

Semakin hati bersih, semakin terbuka hijab yang menutupi hubungan hamba dengan Allah.

Kenapa tasawuf menumpukan kepada hati?

Kerana dalam hati terdapat asal-usul perjalanan ruh manusia.

Sebelum datang ke dunia, ruh telah menerima pengenalan daripada Allah sebagaimana firman-Nya:

"Alastu birabbikum?"
Bukankah Aku Tuhan kamu?

Ruh menjawab:
"Balaa" (Bahkan, Engkaulah Tuhan kami).

Apabila ruh masuk ke alam dunia dan bersatu dengan jasad, manusia mula disibukkan dengan dunia, nafsu, syahwat dan kelalaian sehingga pengenalan asal itu menjadi terlindung.

Maka tujuan tasawuf bukan mencipta Tuhan yang baru untuk dikenali, tetapi menghidupkan kembali kesedaran hati terhadap Tuhan yang sebenarnya telah dikenal oleh ruh sejak awal lagi.

Sebab itu para sufi menyebut:

"Awwaluddin ma'rifatullah"
Permulaan agama ialah mengenal Allah.

Dan jalan untuk mengenal Allah itu ialah dengan membersihkan hati daripada segala yang menghalang cahaya makrifat.

Di sinilah peranan tarekat.

Tarekat ialah kaedah amali untuk membersihkan hati melalui zikir, mujahadah, taubat, adab, bimbingan mursyid dan latihan rohani yang berterusan.

Jadi, ringkasnya:

Syariat mengajar kita apa yang perlu dibuat.

Tarekat mengajar bagaimana membersihkan hati ketika melakukannya.

Hakikat ialah apabila hati mula merasai kehadiran Allah.

Makrifat ialah pengenalan yang mendalam kepada Allah hasil daripada hati yang telah bersih.

Maka tujuan akhir tasawuf dan tarekat bukanlah mencari karamah, bukan mencari kelebihan luar biasa, tetapi membawa hati kembali kepada Allah sehingga ruh yang datang daripada-Nya kembali mengenal-Nya dengan sebenar-benar pengenalan.

Wallaahu a‘lam bishshowab... 
Semoga bermanfaat Aamiin Yaa Rabbal 'aalamiin...

OVERTHINKING TERHADAP PERKARA DUNIA YANG TERCELA

 

OVERTHINKING TERHADAP PERKARA DUNIA YANG TERCELA

Sebagai seorang wanita, saya sering meresahkan kejadian yang telah terjadi dan mengkhawatirkan kejadian yang belum terjadi. Apakah Anda sering menghadapi hal yang sama?

Riset telah menunjukkan bahwa wanita memang yang paling sering overthinking daripada laki-laki. Terlalu memikirkan hal-hal yang detail dan menuntut kesempurnaan. Berujung dengan merasa takut, cemas, tidak percaya diri untuk menghadapi sesuatu yang belum tentu terjadi kedepannya.

Jika yang kita pikirkan adalah masalah yang berkenaan dengan akhirat maka ini terpuji, karena semakin kita takut akan kerugian dan kegagalan di akhirat, kita akan semakin rajin dan semangat dalam beribadah.

Oleh karena itu dikatakan, barang siapa yang takut kepada sesuatu maka ia akan menjauh darinya. Dan barang siapa yang takut kepada Allah, maka ia akan mendekatiNya. Bahkan kita dianjurkan untuk selalu menginstropeksi diri kita. Memperhatikan amalan diri, jika berupa kejelekan maka harus ditinggalkan dan apabila amal kebaikan maka harus terus dipertahankan (A’malul Qulub, hal. 362)

Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu berkata,
‎حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab (kelak pada hari kiamat).”
Adapun overthinking terhadap perkara dunia, yaitu dalam bentuk mencemaskannya, memanjangkan angan-angan terhadapnya, maka ini tercela.

Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu mengatakan,
‎لا يطولنّ عليكم الأمد ولا يلهينّكم الأمل فإنّ كلّ ما هو آت قريب، ألا وإنّ البعيد ما ليس آتيا
“Janganlah kalian panjang angan-angan, dan jangan sampai kalian terlena oleh panjang angan-angan. Sesungguhnya semua yang sedang terjadi itu yang dekat. Dan sesuatu yang jauh adalah yang belum datang” (HR. Ibnu Majah no. 3 secara marfu‘, namun yang shahih adalah mauquf dari Ibnu Mas’ud. Disebutkan Ibnul Qayyim dalam al-Fawaid, hal. 200)

Betapa banyak perkara yang takkan melukaimu, namun hatimu begitu takut dan gundah karenanya. (Al-Ashma’iyyaat 184). Jangan sampai overthink ini mempengaruhi kehidupan kita, berpikiran negatif dan menghalangi kemajuan.

Al-Quran mengingatkan kita untuk senantiasa menyerahkan semua urusan kita kepada Allah, menggantungkan harapan kita hanya kepada Allah.
‎وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ
“Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hambaNya.” (QS. Ghafir: 44)

Ibnul Qayyim Rahimahullah mengatakan, “Allah Maha Bijaksana di antara yang bijaksana, Maha Pengasih di antara para pengasih, dan Maha Mengetahui di antara yang mengetahui. Dia lebih sayang kepada hamba-hambaNya daripada mereka, ayah atau ibu mereka terhadap diri mereka sendiri. Apabila Allah menimpakan sesuatu yang tidak disukai kepada mereka, berarti pada dasarnya itulah yang terbaik bagi mereka. Hal itu dilakukanNya karena mempertimbangkan manfaat bagi mereka, di samping sebagai bentuk kebaikan dan kelembutan dariNya untuk mereka. Seandainya hamba-hambaNya diberikan kebebasan untuk memilih sendiri jalan hidupnya, niscaya mereka tidak akan sanggup mewujudkan kemaslahatan bagi diri mereka sendiri, baik kebaikan dalam hal pengetahuan, kehendak, maupun perbuatan.” (Fawaidul-Fawaid, Pustaka Imam Syafi’i halaman 247)

“Keimanan kepada Allah subhanahu wa ta’ala termasuk faktor utama untuk membangkitkan mentalitas dan sebab pertama untuk meraih kemuliaan nya. Hal itu disebabkan keimanan kepadaNya akan membangkitkan keberanian dan menyerukan keteguhan, juga kesungguhan dan ketekunan. Selain itu, keimanan kepada Allah merupakan sebab pertama untuk mempermudah segala persoalan serta mendatangkan berbagai keberkahan pada amal dan umur”. (Naqdhul-Mantiq karya Ibnu Taimiyyah (halaman 😎, dan Hidayatul-Hayara fi Ajwibatil-Yahud wan-Nashara karya Ibnul Qayyim (halaman 234-248).
Maka hapuslah perasaan gundah dan gulana di hati kita, utamakan pemikiran positif dan baik sangka kepada Allah.

Lakukanlah hal-hal yang bermanfaat yang bisa kita lakukan, isi waktu kita dengannya dan selalu tawakkal kepada Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
‎احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
“Bersungguh-sungguhlah pada perkara-perkara yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu bersikap lemah. Jika kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu katakan: ‘Seandainya aku berbuat demikian, pastilah akan demikian dan demikian’ Akan tetapi katakanlah: ‘Qaddarallah wa maa syaa fa’ala (Allah telah mentakdirkan hal ini dan apa yang dikehendakiNya pasti terjadi)’. Sesungguhnya perkataan ‘Seandainya’ membuka pintu perbuatan setan.” (HR. Ahmad 9026, Muslim 6945, dan yang lainnya)

Diantara doa yang dapat kita baca untuk mengusir kegalauan adalah yang terdapat di dalam hadits dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang hamba tertimpa suatu kegalauan dan kesedihan kemudian dia berdoa,
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ،أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ
‘Ya Allah, sungguh aku adalah hamba-Mu, anak hamba (laki-laki)-Mu, anak hamba (perempuan)-Mu, ubun-ubunku di tangan-Mu, telah lewat bagiku hukum-Mu, keadilan takdir-Mu bagiku. Aku meminta kepada-Mu dengan semua nama yang Engkau miliki, yang Engkau namakan diri-Mu sendiri, atau Engkau ajarkan kepada seorang dari hamba-Mu, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau khususkan dalam ilmu gaib di sisi-Mu, agar Engkau jadikan al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, pelapang kesedihanku, dan penghilang kegalauanku.’

Kecuali Allah ‘azza wa jalla akan mengangkat kegalauannya dan Allah akan mengganti kesedihannya dengan kegembiraan. Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah sebaiknya kami mempelajari rangkaian kalimat (doa) tersebut?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Tentu. Hendaklah muslim yang mendengar (doa dalam hadis ini) untuk mempelajarinya.” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad 1: 391 dinyatakan sahih oleh Syaikh al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. 198)
Maka cukuplah bagi kita untuk memikirkan perkara dunia sewajarnya, karena bagaimanapun kehadiran kita di sini hanya bagaikan pengembara, yang harusnya sibuk mempersiapkan berbagai bekal untuk kembali ke tujuan asal.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
“Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau seorang musafir.” (Hadits shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 6416)