BELAJAR ADAB DAHULU, BARU BELAJAR ILMU
Pendahuluan
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Dalam perjalanan menuju Allah سبحانه وتعالى, seorang salik tidak cukup hanya mengumpulkan pengetahuan. Ilmu harus melahirkan adab, tawadhu', ketaatan, kebersihan hati, dan akhlak yang mulia.
Karena itulah dalam tradisi pendidikan Islam dan tasawuf sangat ditekankan prinsip:
“Belajar adab sebelum memperbanyak ilmu.”
Maksudnya bukanlah seseorang dilarang mempelajari ilmu sebelum sempurna akhlaknya. Sebab untuk mengetahui adab pun manusia membutuhkan ilmu. Maksudnya adalah pendidikan adab harus berjalan sejak awal dan menjadi dasar dalam menerima, mengamalkan, serta menyampaikan ilmu.
Ilmu tanpa adab dapat melahirkan kesombongan. Sebaliknya, ilmu yang disertai adab akan membawa seseorang semakin mengenal kehambaannya di hadapan Allah.
I. APA YANG DIMAKSUD DENGAN ADAB...?
Adab bukan sekadar berbicara sopan atau menghormati orang yang lebih tua.
Dalam jalan tasawuf, adab meliputi:
- Adab kepada Allah.
- Adab kepada Rasulullah ﷺ.
- Adab terhadap Al-Qur'an dan syariat.
- Adab kepada guru dan ulama.
- Adab kepada kedua orang tua.
- Adab kepada sesama manusia.
- Adab kepada sesama salik.
- Adab terhadap diri sendiri.
- Adab dalam berdzikir dan beribadah.
- Adab terhadap makhluk Allah secara keseluruhan.
Dengan demikian, adab merupakan buah dari kesadaran bahwa seorang hamba senantiasa berada di bawah pengawasan Allah.
II. DASAR DASAR ADAB DALAM AL-QUR'AN
1. Adab kepada Allah dan Rasul-Nya
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Hujurat ayat : 1)
Ayat ini mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak boleh menempatkan kehendak, pendapat, dan hawa nafsunya di atas ketentuan Allah dan Rasul-Nya.
Inilah adab pertama seorang salik:
kehendak dirinya ditundukkan kepada kehendak syariat.
2. Adab berbicara di hadapan Rasulullah ﷺ
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi.”
(QS. Al-Hujurat ayat : 2)
Perhatikan bahwa Allah mendidik para sahabat bukan hanya tentang halal dan haram, tetapi juga bagaimana bersikap di hadapan Rasulullah ﷺ.
Ini menunjukkan betapa tinggi kedudukan adab dalam Islam.
III. ADAB SEORANG MURID KEPADA GURU (KISAH NABI MUSA DAN KHIDIR)
Salah satu dalil Al-Qur'an yang sangat indah mengenai adab penuntut ilmu terdapat dalam kisah Nabi Musa عليه السلام dan Khaidir.
Nabi Musa berkata:
هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
Artinya:
“Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian ilmu yang benar yang telah diajarkan kepadamu..?”
(QS. Al-Kahfi ayat : 66)
Perhatikan bahasanya.
Nabi Musa tidak berkata:
“Ajarkan aku...!”
Tetapi beliau meminta izin:
هَلْ أَتَّبِعُكَ — “Bolehkah aku mengikutimu...?”
Padahal Musa adalah seorang Nabi dan Rasul yang mulia.
Ini adalah pelajaran besar bagi seorang salik:
semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin tinggi pula adab dan kerendahan hatinya.
IV. ADAB MENDAHULUI PERTANYAAN
Khaidir kemudian berkata:
فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلَا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ حَتَّىٰ أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا
Artinya:
“Jika engkau mengikutiku, janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.”
(QS. Al-Kahfi ayat : 70)
Pelajarannya bukan bahwa murid tidak boleh bertanya. Bertanya justru merupakan jalan memperoleh ilmu.
Namun seorang murid harus mengetahui:
kapan bertanya, bagaimana bertanya, kepada siapa bertanya, dan dengan bahasa bagaimana ia bertanya.
Pertanyaan yang disampaikan dengan tawadhu' berbeda dengan pertanyaan yang bertujuan menguji, mempermalukan, atau menunjukkan bahwa dirinya lebih mengetahui.
V. RASULULLAH ﷺ DIUTUS UNTUK MENYEMPURNAKAN AKHLAK.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
Artinya:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.”
HR ( Imam Ahmad)
Ini menunjukkan bahwa tujuan agama bukan hanya menjadikan manusia banyak mengetahui, tetapi menjadikan manusia baik di hadapan Allah dan baik terhadap makhluk-Nya.
VI. ILMU YANG BENAR AKAN MELAHIRKAN RASA TAKUT KEPADA ALLAH.
Allah berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Artinya: Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir ayat : 28)
Maka ukuran keberhasilan ilmu bukan sekadar banyaknya hafalan.
Pertanyaannya adalah:
Apakah setelah bertambah ilmu, bertambah pula rasa takut kepada Allah...?
Apakah semakin tawadhu'...?
Apakah semakin menjaga lisan...?
Apakah semakin mudah memaafkan...?
Apakah semakin rajin beribadah...?
Apakah semakin sedikit merasa dirinya lebih baik daripada orang lain....?
Jika iya, ilmu tersebut sedang membuahkan adab.
VII. BAHAYA ILMU TANPA ADAB.
Allah menceritakan perumpamaan seseorang yang diberi ayat-ayat-Nya tetapi kemudian melepaskan diri darinya:
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا
Artinya:
“Dan bacakanlah kepada mereka berita tentang orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu...”
(QS. Al-A'raf ayat : 175)
Ini memberikan pelajaran bahwa mengetahui kebenaran tidak otomatis membuat seseorang menjadi baik apabila pengetahuan tersebut tidak diikuti ketundukan kepada Allah.
Karena itu dalam tasawuf, ilmu harus disertai:
ilmu → amal → ikhlas → adab → tazkiyatun nafs.
VIII. PENYAKIT BESAR ORANG BERILMU ADALAH KESOMBONGAN.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
Artinya:
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.”(HR. Muslim)
Kesombongan sangat berbahaya bagi seorang penuntut ilmu.
Seseorang mungkin mengetahui banyak kitab, dalil, istilah fiqh maupun tasawuf, tetapi kemudian muncul perasaan:
“Aku lebih alim.”
“Aku lebih tinggi maqamnya.”
“Aku lebih dekat kepada Allah.”
“Orang lain belum sampai.”
Pada saat itulah ilmu yang seharusnya menjadi jalan mendekat kepada Allah justru dapat menjadi makanan bagi nafsu.
IX. CONTOH IBLIS: BER ILMU TAPI TAK BERADAB.
Iblis mengetahui keberadaan Allah. Ia bahkan berbicara kepada Allah.
Tetapi ketika diperintahkan bersujud kepada Adam, ia menolak karena kesombongan.
Allah berfirman:
أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
Artinya:
“Ia enggan dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan orang-orang kafir.”
(QS. Al-Baqarah ayat : 34)
Masalah Iblis bukan semata-mata tidak mengetahui.
Masalahnya adalah:
tidak tunduk.
Ia membanggakan asal penciptaannya:
أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ
“Aku lebih baik daripadanya.”
(QS. Al-A'raf ayat : 12)
Kalimat “aku lebih baik” merupakan penyakit yang harus sangat diwaspadai oleh seorang salik.
X. MENGAPA THORIQAT SANGAT MENEKANKAN ADAB...?
Karena perjalanan thoriqat pada hakikatnya bukan sekadar perjalanan menambah informasi, melainkan perjalanan mendidik jiwa dan membersihkan hati.
Allah berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
Artinya:
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
(QS. Asy-Syams ayat 9–10)
Karena itu pendidikan seorang salik diarahkan kepada tazkiyatun nafs.
Bukan sekadar:
“Apa yang sudah aku ketahui...?”
Tetapi:
“Sudah berubahkah diriku setelah mengetahui?”
XI. ADAB KEPADA GURU MURSYID.
Dalam ajaran thoriqat, seorang murid diajarkan menghormati mursyid atau guru yang membimbingnya.
Namun perlu diberi batas yang jelas:
ketaatan kepada guru tidak boleh mengalahkan ketaatan kepada Allah dan Rasulullah ﷺ.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ
Artinya:
“Sesungguhnya ketaatan itu hanyalah dalam perkara yang baik.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Karena itu, menghormati mursyid bukan berarti menganggap mursyid sebagai Tuhan, tidak pernah mungkin keliru, atau boleh menghalalkan yang diharamkan Allah.
Mursyid dihormati karena ia menjadi pembimbing perjalanan ruhani, sedangkan tujuan akhirnya tetap:
ALLAH سبحانه وتعالى.
XII. CONTOH-CONTOH ADAB DALAM THARIQAT
Contoh 1 — Ketika guru sedang berbicara
Seorang murid mendengarkan dengan tenang dan tidak sibuk menunjukkan bahwa dirinya sudah mengetahui pembahasan tersebut.
Dalam hatinya:
“Mungkin Allah sedang memberikan pelajaran kepadaku melalui perkataan ini.”
Contoh 2 — Ketika tidak memahami perkataan guru,.maka jangan langsung membantah dengan kasar.
Bertanyalah:
“Mohon izin, Guru. Bagaimana maksud dari penjelasan tersebut...?”
Inilah ilmu yang dibungkus dengan adab.
Contoh 3 — Ketika mengetahui kesalahan saudara
Orang yang kurang adab berkata:
“Kamu salah!”
Orang yang beradab memilih kata yang menjaga kehormatan saudaranya:
“Menurut yang saya pelajari, mungkin ada penjelasan lain mengenai masalah ini.”
Kebenaran tetap disampaikan, tetapi kehormatan manusia tetap dijaga.
Contoh 4 — Ketika mempunyai ilmu lebih banyak
Jangan merasa lebih tinggi.
Sebab kita tidak mengetahui siapa yang lebih mulia di sisi Allah.
Allah berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Artinya: Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat ayat : 13)
Contoh 5 — Ketika berdzikir
Jangan merasa:
“Aku sudah ahli dzikir.”
Tetapi hadirkan kehambaan:
“Ya Allah, tanpa pertolongan-Mu aku tidak mampu mengingat-Mu.”
Contoh 6 — Ketika mendapat pengalaman ruhani
Seorang salik mungkin mengalami ketenangan, mimpi, lintasan batin, atau pengalaman spiritual tertentu.
Adabnya adalah tidak segera menganggap dirinya wali atau telah mencapai maqam tinggi.
Semua pengalaman tersebut harus ditimbang dengan Al-Qur'an dan Sunnah.
Xlll. HUBUNGAN ADAB, ILMU, AMAL, DAN MA'RIFAT.
Perjalanan seorang salik dapat digambarkan:
ADAB → ILMU → AMAL → TAZKIYAH → ISTIQOMAH → IHSAN → MA'RIFATULLAH
Namun tahapan ini tidak selalu terpisah secara kaku. Semuanya saling menguatkan.
Adab tanpa ilmu dapat kehilangan petunjuk.
Ilmu tanpa amal dapat menjadi hujjah atas diri sendiri.
Amal tanpa ikhlas kehilangan ruhnya.
Dzikir tanpa adab mudah menjadi kebiasaan lisan semata.
Tasawuf tanpa syariat kehilangan ukuran.
Syariat yang diamalkan dengan ihsan akan menghiasi kehidupan lahir dan batin seorang hamba.
XlV. TANDA ILMU SUDAH MEMBUAHKAN ADAB
Semakin bertambah ilmu, seseorang seharusnya semakin:
tawadhu', lembut, sabar, takut kepada Allah, menjaga lisan, menghormati orang lain, sedikit membicarakan aib manusia, banyak mengoreksi dirinya sendiri, serta semakin kuat berpegang kepada Al-Qur'an dan Sunnah.
Apabila semakin banyak ilmu tetapi semakin suka merendahkan orang lain, maka yang perlu diperiksa bukan hanya ilmunya, tetapi keadaan hatinya.
XV. PESAN UNTUK PARA SALIK
Wahai para penempuh jalan menuju Allah...
Janganlah engkau merasa tinggi karena banyaknya ilmu.
Jangan merasa dekat kepada Allah karena banyaknya dzikir.
Jangan merasa mulia karena dekat dengan seorang mursyid.
Jangan merasa suci karena telah mengikuti suluk.
Jangan merasa telah mencapai maqam tertentu karena pengalaman ruhani.
Sebab semakin dekat seorang hamba kepada Allah, seharusnya semakin jelas baginya betapa fakir dan lemahnya dirinya di hadapan Allah.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
“Wahai manusia! Kamulah yang membutuhkan Allah, sedangkan Allah Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.”
(QS. Fathir: 15)
XVI. KESIMPULAN
Ungkapan “Belajar adab dahulu, baru belajar ilmu” bukan berarti meninggalkan ilmu.
Justru seorang salik wajib mempelajari ilmu agama agar ibadah dan perjalanan ruhaninya tidak menyimpang.
Makna yang lebih tepat adalah:
“Sebelum engkau membanggakan banyaknya ilmu, didiklah dahulu hatimu agar mampu menerima dan mengamalkan ilmu dengan benar.”
Karena ilmu menunjukkan jalan.
Amal membuat kita berjalan.
Adab menjaga kita agar tidak tersesat dalam perjalanan.
Ikhlas membersihkan tujuan perjalanan.
Sedangkan tujuan tertinggi seorang salik adalah memperoleh ridha Allah سبحانه وتعالى.
Maka jangan hanya bertanya:
“Seberapa banyak ilmu yang telah aku pelajari?”
Tetapi bertanyalah kepada diri sendiri:
“Seberapa banyak ilmu itu telah mengubah akhlakku?”
“Apakah ilmuku membuatku semakin tawadhu'?”
“Apakah dzikirku membuat lisanku semakin terjaga?”
“Apakah ibadahku membuat hatiku semakin lembut?”
Dan yang paling penting:
“Apakah semuanya membuatku semakin taat dan semakin merasa sebagai hamba di hadapan Allah?”
“Seberapa banyak ilmu yang telah aku pelajari?”
Tetapi bertanyalah kepada diri sendiri:
“Seberapa banyak ilmu itu telah mengubah akhlakku?”
“Apakah ilmuku membuatku semakin tawadhu'?”
“Apakah dzikirku membuat lisanku semakin terjaga?”
“Apakah ibadahku membuat hatiku semakin lembut?”
Dan yang paling penting:
“Apakah semuanya membuatku semakin taat dan semakin merasa sebagai hamba di hadapan Allah?”
Penutup
اَللّٰهُمَّ أَدِّبْنَا بِأَدَبِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَزَيِّنَّا بِحُسْنِ الْأَخْلَاقِ، وَطَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ الْكِبْرِ وَالْعُجْبِ وَالرِّيَاءِ، وَارْزُقْنَا عِلْمًا نَافِعًا وَعَمَلًا صَالِحًا وَقَلْبًا خَاشِعًا.
“Ya Allah, didiklah kami dengan adab Nabi-Mu Muhammad ﷺ. Hiasilah kami dengan akhlak yang baik. Bersihkanlah hati kami dari kesombongan, ujub dan riya. Karuniakanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, amal yang saleh, dan hati yang khusyuk.”
آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
والله أعلم بالصواب

Tidak ada komentar:
Posting Komentar